Senin, 01 Desember 2014

Sekolah Pelangi

Ceritanya memang panjang...
Karena aku adalah objek yang dimainkan oleh takdir-Nya..dan ini semua sudah menjadi takdirku dengan segala ikhtiar yang aku lakukan...
Diterima di salah satu sekolah yang memiliki kredibilitas dengan akreditasi A. Sekolah menuju pendidikan inklusif dengan tes bagi calon pendidik yang menurutku diuji segalanya, disamping pengetahuan, juga diuji mental apakah kuat atau tidak.
Berbekal tekad, dan selalu teringat akan kata-kata motivasi  ketika training ESQ Do The Best All The Time. Dan tentu saja kepasrahan kepada-Nya.
Semua berjalan, dan harus dijalani, nikmati, dan syukuri.
Ya...ada sekolah...sekolah kehidupan dengan ragam anak-anak yang bagiku luar biasa, makna denotatif dan konotatif. Luar biasa dengan beragam kecerdasan dan luar biasa yang memiliki arti ABK (anak berkebutuhan khusus).
Sekolah yang aku anggap seperti alam pendidikan, dimana aku tidak berhenti belajar. Aku harus terus berlatih, belajar, mencari, mengamati, menyimpulkan. Dan benar-benar tempat pembelajaran...
Sekolah kehidupan yang memiliki arti Pelangi.

Kamis, 29 Mei 2014

Ketika Seorang Wanita Bekerja



Aktifitas yang membosankan akan menjadikan hidup juga membosankan. Lantas aktifitas seperti apakah agar hidup terasa tidak membosankan atau lebih tepatnya menikmati hidup dan menyenangkan.
            Terbayangkan bila menjadi seorang ibu rumah tangga tanpa ada atau tanpa memiliki aktifitas selain dari mengurus anak. Ditambah dengan penghasilan dari suami yang bekerja dengan gaji pas-pasan, sehingga untuk melakukan sesuatu atau jalan-jalan tidak uang, karena gajinya hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Satu hal penting yang perlu digaris bawahi bahwa besar kecilnya pengeluaran tergantung dari pemasukan.
            Kembali kepada aktifitas, menjadi seorang wanita karir, banyak yang menginginkannya. Tapi, ada wanita karir yang bekerja, ketika anaknya sekolah, anak merasa kesepian. Ketika anak memasuki taman kanak-kanak, mereka diantar oleh ibu mereka ke sekolah, dan ketika istirahat biasanya mereka ke pelukan ibunya. Karena usia TK, anak-anak masih manja. Pulang sekolah mereka ingin mencurahkan apa yang telah terjadi disekolahnya kepada ibunya. Terbayangkan, bila ibunya bekerja, anak merasa kesepian. Tidak sedikit seorang wanita atau ibu bekerja karena tuntutan ekonomi, gaji suaminya yang pas-pasan kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
            Memang, bila seorang wanita atau ibu bekerja akan membantu perekonomian keluarga, tapi bagaimana dengan nasib anak-anak, mereka merasakan kurang kasih sayang dan perhatian dari ibunya. Anak-anak merasa kuran perhatian sehingga mereka mencari perhatian dari orang lain atau orang di luar rumah. Terlebih ketika ditambah dengan sikap ayahnya yang kurang perhatian. Ada berbagai karakter yang merupakan dampak seroang anak yang ibunya sibuk bekerja,ada seorang anak yang mandiri. Hal itu bagus, tapi kasihan anak terlihat kurang perhatian,dan yang seperti itu anak cenderung memiliki sikap pendiam. Ada juga yang aktifnya berlebihan dan mencari-cari perhatian dengan sikapnya yang tidak lain atau tidak seperti anak-anak yang lain. Tapi anak ini cenderung memiliki sikap tempramen, mudah marah dan tersinggung, hal ini berdasarkan fakta nyata yang terjadi pada anak. Tapi, mungkin tidak semua anak seperti ini juga yang ibunya bekerja.
            Disatu sisi tuntutan ekonomi yang mengharuskan seorang ibu bekerja, karena mengandalkan suami gajinya pas-pasan. Dan disatu sisi pula anak menjadi korban kesibukan kedua orangtua mereka yang bekerja. Kodrat seorang wanita memang mengurus  rumah tangga, tapi bila memang tuntutan ekonomi, bagaimana? Adakah kerja untuk seorang wanita tapi masih tetap bisa mengurus anaknya, masing-masing orang memiliki persepsi tersendiri.
            Bila memang suami gajinya mencukupi, sebuah anugerah dan hal tersebut patut disyukuri sehingga bisa lebih konsentrasi mengurus dan juga mendidik anak. Karena pendidikan untuk anak tidak hanya cukup di dapat disekolah. Yang terutama dan terpenting ialah didapat di rumah oleh orangtuanya.
            Lebih indah hidup dengan aktifitas menyenangkan, penyaluran hobi, tentunya setiap orang memiliki hobi yang berbeda. Setidaknya, selain mengurus dan mendidik anak,ada suatu suatu aktifitas untuk diri sendiri, sehingga tidak jenuh dan membosankan. Hingga hidup terasa lebih berwarna...materi tidak menjamin kebahagiaan dalam kehidupan...tapi materi penunjang kehidupan.
-Kamis, 5 Agustus 2010-

Jumat, 23 Mei 2014

Siapa yang Mengerjakan PR?



Pekerjaan rumah atau tugas untuk dikerjakan di rumah di sekolah taman kanak-kanak hingga tingkat perguruan sekalipun pasti ada. Dan tidak jarang pula, dengan tugas tersebut ada saja yang tidak bisa mengerjakannya.
            Ada yang perlu digarisbawahi dan hal ini berdasarkan pada pengalaman menjadi pendidik di taman kanak-kanak. Ketika disekolah, tidak jarang tulisan mereka masih terbilang tidak rapi. Dan ketika mereka diberikan tugas atau pr, tulisan mereka kerap kali terlihat bagus dan berbeda sekali dengan tulisan di sekolah. Ada satu pertanyaan yang menarik “Siapa yang mengerjakan PR...?”
            Orang tua, terlebih ibunya anak kerap kali merasakan kesal, ketika anaknya mengerjakan PR. Karena anak tidak bisa mengerjakannya. Ketika  anak lama atau tidak bisa mengerjakan PR, sehingga ibunya lah yang akhirnya bergerak untuk mengerjakan PR.Refleksi bagi para ibu yang memiliki buah hati....yang sudah bersekolah....
14 Januari 2012

Senin, 19 Mei 2014

Percakapan Dua Perempuan Dua Generasi



Sepenggal Catatan permulaan Fatimah
Inspirasi hadir darimana saja, inspirasi hadir menjadi sebuah kumpulan atau beberapa lembar goresan tinta tak terarah. Karena dengan sederet tulisan goresan tinta tak terarah, berasakan hidup ini berarti. Berarti tidak hanya sekedar hidup, makan dan segala aktivitas orang-orang lainnya hidup. Inspirasi hadir karena adanya sinergi akal dan hati dari mendegar, melihat, dan merasakan.
            Fatimah...ya, namanya Fatimah...namun orang Sunda sering melafalkan dengan menggunakan huruf P yang semulanya F. Sehingga dari Fatimah menjadi Patimah. Menuliskan goresan tinta tak terarah akan Fatimah, tentu segenap energi dikumulasikan. Semula dari momen percakapan akan berbagi cerita antara dua perempuan dari dua generasi. Semula perempuan dari generasi pertama, jangan dituliskan! kisah ini hanya ingin dibagikan dalam kasih yang tidak terlepas dari sayang, sayang sepenuh hati agar kita bisa lebih bersyukur dalam memandang kehidupan ini. Yang semula seorang perempuan dari generasi kedua mengatakan bahwa hidup ini keras, dan perempuan generasi pertama menimpalinya dengan penuh kasih sayang akan berbagi kisah akan seorang perempuan generasi sebelumnya yang bernama Fatimah. Kisah Fatimah dirasakan selalu getir sepanjang hidupnya, begitu kata perempuan generasi pertama. Sesaat sebelumnya, perempuan generasi pertama merindukan bacaan yang mengisahkan kisah-kisah intrik sosial.
            Kisah akan Fatimah terus terngiang pada benak pikiran perempuan generasi kedua, saat makan, saat terdiam, bahkan saat mandi sekalipun. Tidak jarang, bagi para pencari inspirasi, terasakan inspirasi hadir pada saat berada di kamar mandi. Karena saat itu, pikiran sedang kosong.
            Hati akhirnya terpanggil untuk menggoreskan kisah Fatimah bagi perempuan generasi kedua karena ceritanya terus terngiang. Dan...duduk di depan laptop, secangkir kopi menemani setiap aktivitasnya, kacamata minusnya yang setia dan agar bisa tetep melek, dan...jari-jari bergerak pada tuts keyboard teman setianya notebook.
           

Selasa, 06 Mei 2014

Cerpen : LANUN



Seorang perempuan berparas cantik, cantik dalam ukuran kecantikan Sunda. Berwajah nyari, karena parasnya yang berwajah manis dengan kulit tidaklah putih dan juga tidaklah hitam. Begitupun dengan hidungnya, tidaklah mancung namun tidak pula pesek. Dagu yang lancip dan bila dapat dikatakan cameuh. Alis tebal ditambah pula dengan bola mata yang hitam. Berambut pendek dengan gaya potongan segi.
              Banyak yang mengatakan ketika selintas melihat dirinya mirip seperti penyanyi yang juga sempat bermain dalam beberapa film layar lebar di era 90-an. Seorang penyanti berparas manis yang meninggal karena menabrak pembatas jalan, Nike Ardila.
              Nama perempuan itu Lanun. Siapapun lelaki yang melihat Lanun tentu tidak sedikit dari mereka terpikat dengan kecantikan Lanun yang berkulit sawo matang.
              Seiring banyaknya lelaki yang terpikat kepada Lanun. Banyak lelaki yang merayu, menggombal dengan iming-imingan kemewahan kepada Lanun bila ia rela menjadi pasangan hidupnya. Namun tidak ada satupun pria yang membuat hati Lanun terpikat. Entah apa sebabnya, tapi Lanun bukanlah tipe perempuan matre.
              Lanun telah berkerudung, mungkin itu salah satu dari alasan Lanun untuk tidak menerima cinta lelaki terlebih dahulu yang memang sudah menjadi keputusannya. Dengan berkerudung semakin terpancarlah wajahnya yang cantik dari sebelumnya. Ditambah Lanun terlihat berpendidikan, karena Lanun duduk di bangku kuliah.
              Banyak yang memuji Lanun termasuk diantara perempuan yang sebaya umurnya. Bila perempuan selintas melihatnya, siapa yang tidak merasa iri padanya walau memang perasaan iri hanya selintas. Bagaimana tidak, selain memang memiliki wajah yang cantik ditambah berpendidikan.
***
              Lama tidak terlihat sosok Lanun, seolah tidak ada pembicaraan diantara kaum muda-mudi khususnya kaum adam disekitar lingkungan rumahnya yang memang menginginkan dirinya. Mungkin dikarenakan sibuk, entah oleh pekerjaan atau pendidikannya sehingga Lanun tinggal nge-kost dekat dengan tempat pendidikannya atau pekerjaannya. Walau semua itu tidaklah pasti kabarnya, aku hanya tahu selintas dari orang yang suka memperbincangkannya.
              Seiring berjalannya waktu, sehingga terlihat Lanun hanya menggunakan kerudung dengan asal-asalan yang tentunya masih terlihat rambutnya. Ditambah dengan raut wajah dan mimik muka yang sedikit murung. Hal itu biasa terjadi dan terlihat biasa saja, mungkin karena kecapean dan terlalu sibuk. Tapi apakah memang karena hal itu, Lanun bermimik muka seperti itu. Walau memang masih terlihat paras cantiknya.
              Kini kulihat Lanun sering berada di sekitar rumahnya, dan sudah kembali kerumahnya. Alasannya entah mengapa. Pernah kudengar seseorang melihat Lanun berbicara sendiri ketika sedang berjalan dan ketika melewati seseorang yang berada di depan rumahnya tak sepatah katapun terucap dari bibirnya, sesungging senyumnyapun tidak keluar dari bibirnya. Tapi, mungkin saja dia tidak melihat atau dia tidak konsentrasi dengan keadannya. Sampai segitukah? Kudengar hal itu tidak hanya pada satu atau dua orang, melainkan beberapa orang.
              Pernah juga Lanun membagi-bagikan buah pepaya kepada tetangga-tetangganya. Mungkin memang dia memiliki sikap baik hati. Tetapi katanya itu tidak biasa. Buah pepaya yang telah dipotong kemudian dibagikan oleh Lanun ternyata milik kakak iparnya yang tinggal satu rumah dengannya.
              Dan tersiar kabar, bahwa Lanun sedikit terganggu jiwa dan mentalnya. Terdengar juga kabar yang tersiar bahwa Lanun telah dipermainkan oleh lelaki. Hal yang biasa dikatakan masuk akal dan juga tidak, antara percaya atau tidak. Di jaman yang sudah modern seperti ini masih ada perdukunan.
              Lanun dengan paras wajah cantik suatu ketika pernah menolak seorang lelaki yang ingin mempersunting dirinya dan hal itu membuat si lelaki merasa sakit hati dengan perlakuan Lanun. Sepert kata pepatah, cinta ditolak dukun bertindak. Masih jamankah hal seperti itu di era yang sudah modern? Tapi, bukankah Lanun berkerudung, mungkin saja dia juga orang yang taat beribadah. Lantas, benarkah apa yang dibicarakan oleh orang-orang bahwa Lanun sering terlihat berjalan sendiri atau duduk di pinggir jalan sendiri, berbicara dan tersenyum sendiri. Dan pernah kulihat secara tidak sengaja Lanun lewat depan rumahku, memang keadaan Lanun terlihat aneh, lewat depan rumah tanpa permisi padahal antara aku dan Lanun saling bertemu mata.
              Para lelaki yang pernah ditolak Lanun, hanya bisa memandang dari kejauhan dan kedekatan. Mungkin saja mereka masih menyimpan harapan untuk bsia hidup dengan Lanun karena paras kecantikannya. Tapi mungkinkah, ataukah mungkin dihati mereka menyimpan perasaan puaskah, dendamkah karena tidak satupun lelaki diantara mereka yang diterima cintanya oleh Lanun dikala itu. Tapi barangkali tidak untuk sekarang.
            Lanun yang malang tak terarah, melangkah dengan tergotai....padahal masih panjang akan masa depan Lanun. Dari kejauhan pula aku hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat sesuatu kepada Lanun. Karena Lanun memang sedikit terganggun jiwanya.

Senin, 05 Mei 2014

Saling Menjaga dalam Ada maupun Tidak Ada



            Dalam suatu kesempatan untuk kembali berbagi kepada mereka, mereka teman-teman atau adik-adik untuk sama-sama belajar. Selesai membaca Al-Quran bersama (Tadarus Al-Quran), aku berbagi akan  tema yang disampaikan mengenai Suara Hati Anggukan Univesal, teori dalam training ESQ Ary Ginanjar Agustian. Terdapat nilai kehidupan yang utama dan terutama adalah kejujuran. Sampai adzan Isya berkumandang, waktunya telah selesai kebersamaan itu.
            Dalam kesempatan akan pulang, seorang adik bertanya “Teteh bersahabat dengan teh Dewi dan teh Winda?” tanya salah satu adik. Dewi dan Winda adalah dua diantara sahabat-sahabat kecilku yang tetap terus terjalin ikatannya hingga kini, sahabat kecil ketika masih duduk di bangku sekolah dasar karena kami mengaji bersama hingga kini usia kami menginjak dewasa awal dan saat ini kami berbagi kepada adik-adik kecil.
            Kontan aku menjawab, “Ya..teteh sahabatan dari kecil.” Dengan adanya pertanyaan tersebut, menjadi satu kesempatan untuk aku berbagi, “Kunci persahabatan itu ialah saling menjaga. Seperti misalnya begini....ketika teteh bersama teh Winda, kita tidak membicarakan kejelekan teh Dewi, tapi membicarakan kebaikannya. Atau ketika teteh bersama teh Dewi, tidak membicarakan juga teh Winda. Yang utama dan terutama dalam sebuah persahabatan adalah kejujuran...suatu hari teteh makan satu piring bersama dengan teh Dewi, setelah makanan habis dalam piring, kita mengakui bahwa kita masih menginginkannya, jadi kita tambah lagi makanan bersama...intinya kejujuran..”sahutku pada mereka. Untuk masalah makan dalam satu piring itu, aku hanya ingin berbagi akan kisah senang karena aku merasa diantara kita tidak ada jaim (jaga image). Terkenang kembali masa-masa kecil. Entah, mereka menyimak ataukah tidak, hanya saja yang kulihat mereka memperhatikan dengan mata.
            Dan kembali ada pertanyaan, “Teteh pernah musuhan...?” kontan aku menjawab, “Pernah dong..” lantas aku sendiri bingung musuhan yang mana ya. Kurasa, musuhan secara langsung itu tidak, tetapi perbedaan paham atau saling tidak enak hati barangkali tentu saja pernah. Kuncinya, ya...kembali memaklumi dan saling memahami.
            Terasakan, kunci persahabatan sedari kecil aku gunakan dengan teman kelas di kampus, Hanifah, Airin, Hamidah, dan Dwi. Aku merasakan, bahwa diantara kami sedari awal semester merasakan belum pernah bermusuhan, ketika ada perbedaan paham kita saling jujur. Kunci utama yang aku rasakan, benar-benar....saling menjaga ketika ada maupun tidak ada.
            Semoga....persahabatan yang terjalin ini tetapi terjalin selamanya, dan Alloh senantiasa memberikan keberkahan teruntuk kita...Amin Yaa Rabbi.... dan....miss u all...teruntuk para sahabat-sahabatku.............
Rabu, 1 Mei 2014
22:09
dalam kesendirian,keheningan, kerinduan... sesaat setelah berkutat dengan tulisan berstruktur (skripsi)