Ceritanya memang panjang...
Karena aku adalah objek yang dimainkan oleh takdir-Nya..dan ini semua sudah menjadi takdirku dengan segala ikhtiar yang aku lakukan...
Diterima di salah satu sekolah yang memiliki kredibilitas dengan akreditasi A. Sekolah menuju pendidikan inklusif dengan tes bagi calon pendidik yang menurutku diuji segalanya, disamping pengetahuan, juga diuji mental apakah kuat atau tidak.
Berbekal tekad, dan selalu teringat akan kata-kata motivasi ketika training ESQ Do The Best All The Time. Dan tentu saja kepasrahan kepada-Nya.
Semua berjalan, dan harus dijalani, nikmati, dan syukuri.
Ya...ada sekolah...sekolah kehidupan dengan ragam anak-anak yang bagiku luar biasa, makna denotatif dan konotatif. Luar biasa dengan beragam kecerdasan dan luar biasa yang memiliki arti ABK (anak berkebutuhan khusus).
Sekolah yang aku anggap seperti alam pendidikan, dimana aku tidak berhenti belajar. Aku harus terus berlatih, belajar, mencari, mengamati, menyimpulkan. Dan benar-benar tempat pembelajaran...
Sekolah kehidupan yang memiliki arti Pelangi.
Ira Susanti
Berbagi goresan tinta tak terarah akan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan sekitar kehidupan
Senin, 01 Desember 2014
Kamis, 29 Mei 2014
Ketika Seorang Wanita Bekerja
Aktifitas
yang membosankan akan menjadikan hidup juga membosankan. Lantas aktifitas
seperti apakah agar hidup terasa tidak membosankan atau lebih tepatnya
menikmati hidup dan menyenangkan.
Terbayangkan bila menjadi seorang
ibu rumah tangga tanpa ada atau tanpa memiliki aktifitas selain dari mengurus
anak. Ditambah dengan penghasilan dari suami yang bekerja dengan gaji
pas-pasan, sehingga untuk melakukan sesuatu atau jalan-jalan tidak uang, karena
gajinya hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Satu hal penting yang perlu
digaris bawahi bahwa besar kecilnya pengeluaran tergantung dari pemasukan.
Kembali kepada aktifitas, menjadi
seorang wanita karir, banyak yang menginginkannya. Tapi, ada wanita karir yang
bekerja, ketika anaknya sekolah, anak merasa kesepian. Ketika anak memasuki
taman kanak-kanak, mereka diantar oleh ibu mereka ke sekolah, dan ketika
istirahat biasanya mereka ke pelukan ibunya. Karena usia TK, anak-anak masih manja.
Pulang sekolah mereka ingin mencurahkan apa yang telah terjadi disekolahnya
kepada ibunya. Terbayangkan, bila ibunya bekerja, anak merasa kesepian. Tidak
sedikit seorang wanita atau ibu bekerja karena tuntutan ekonomi, gaji suaminya
yang pas-pasan kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Memang, bila seorang wanita atau ibu
bekerja akan membantu perekonomian keluarga, tapi bagaimana dengan nasib
anak-anak, mereka merasakan kurang kasih sayang dan perhatian dari ibunya.
Anak-anak merasa kuran perhatian sehingga mereka mencari perhatian dari orang
lain atau orang di luar rumah. Terlebih ketika ditambah dengan sikap ayahnya
yang kurang perhatian. Ada berbagai karakter yang merupakan dampak seroang anak
yang ibunya sibuk bekerja,ada seorang anak yang mandiri. Hal itu bagus, tapi
kasihan anak terlihat kurang perhatian,dan yang seperti itu anak cenderung
memiliki sikap pendiam. Ada juga yang aktifnya berlebihan dan mencari-cari
perhatian dengan sikapnya yang tidak lain atau tidak seperti anak-anak yang
lain. Tapi anak ini cenderung memiliki sikap tempramen, mudah marah dan
tersinggung, hal ini berdasarkan fakta nyata yang terjadi pada anak. Tapi,
mungkin tidak semua anak seperti ini juga yang ibunya bekerja.
Disatu sisi tuntutan ekonomi yang
mengharuskan seorang ibu bekerja, karena mengandalkan suami gajinya pas-pasan.
Dan disatu sisi pula anak menjadi korban kesibukan kedua orangtua mereka yang
bekerja. Kodrat seorang wanita memang mengurus
rumah tangga, tapi bila memang tuntutan ekonomi, bagaimana? Adakah kerja
untuk seorang wanita tapi masih tetap bisa mengurus anaknya, masing-masing
orang memiliki persepsi tersendiri.
Bila memang suami gajinya mencukupi,
sebuah anugerah dan hal tersebut patut disyukuri sehingga bisa lebih
konsentrasi mengurus dan juga mendidik anak. Karena pendidikan untuk anak tidak
hanya cukup di dapat disekolah. Yang terutama dan terpenting ialah didapat di
rumah oleh orangtuanya.
Lebih indah hidup dengan aktifitas
menyenangkan, penyaluran hobi, tentunya setiap orang memiliki hobi yang
berbeda. Setidaknya, selain mengurus dan mendidik anak,ada suatu suatu
aktifitas untuk diri sendiri, sehingga tidak jenuh dan membosankan. Hingga
hidup terasa lebih berwarna...materi tidak menjamin kebahagiaan dalam
kehidupan...tapi materi penunjang kehidupan.
-Kamis, 5 Agustus 2010-
Jumat, 23 Mei 2014
Siapa yang Mengerjakan PR?
Pekerjaan
rumah atau tugas untuk dikerjakan di rumah di sekolah taman kanak-kanak hingga
tingkat perguruan sekalipun pasti ada. Dan tidak jarang pula, dengan tugas
tersebut ada saja yang tidak bisa mengerjakannya.
Ada yang perlu digarisbawahi dan hal
ini berdasarkan pada pengalaman menjadi pendidik di taman kanak-kanak. Ketika
disekolah, tidak jarang tulisan mereka masih terbilang tidak rapi. Dan ketika
mereka diberikan tugas atau pr, tulisan mereka kerap kali terlihat bagus dan
berbeda sekali dengan tulisan di sekolah. Ada satu pertanyaan yang menarik
“Siapa yang mengerjakan PR...?”
Orang tua, terlebih ibunya anak
kerap kali merasakan kesal, ketika anaknya mengerjakan PR. Karena anak tidak
bisa mengerjakannya. Ketika anak lama atau tidak bisa mengerjakan PR, sehingga ibunya
lah yang akhirnya bergerak untuk mengerjakan PR.Refleksi bagi para ibu yang memiliki buah hati....yang sudah bersekolah....
14
Januari 2012
Senin, 19 Mei 2014
Percakapan Dua Perempuan Dua Generasi
Sepenggal Catatan
permulaan Fatimah
Inspirasi
hadir darimana saja, inspirasi hadir menjadi sebuah kumpulan atau beberapa
lembar goresan tinta tak terarah. Karena dengan sederet tulisan goresan tinta
tak terarah, berasakan hidup ini berarti. Berarti tidak hanya sekedar hidup,
makan dan segala aktivitas orang-orang lainnya hidup. Inspirasi hadir karena
adanya sinergi akal dan hati dari mendegar, melihat, dan merasakan.
Fatimah...ya, namanya Fatimah...namun orang Sunda sering melafalkan dengan
menggunakan huruf P yang semulanya F. Sehingga dari Fatimah menjadi Patimah. Menuliskan goresan tinta tak
terarah akan Fatimah, tentu segenap energi dikumulasikan. Semula dari momen percakapan
akan berbagi cerita antara dua perempuan dari dua generasi. Semula perempuan
dari generasi pertama, jangan dituliskan!
kisah ini hanya ingin dibagikan dalam kasih yang tidak terlepas dari sayang,
sayang sepenuh hati agar kita bisa lebih bersyukur dalam memandang kehidupan
ini. Yang semula seorang perempuan dari generasi kedua mengatakan bahwa hidup ini keras, dan perempuan generasi
pertama menimpalinya dengan penuh kasih sayang akan berbagi kisah akan seorang
perempuan generasi sebelumnya yang bernama Fatimah.
Kisah Fatimah dirasakan selalu
getir sepanjang hidupnya, begitu kata perempuan generasi pertama. Sesaat
sebelumnya, perempuan generasi pertama merindukan bacaan yang mengisahkan
kisah-kisah intrik sosial.
Kisah akan Fatimah terus
terngiang pada benak pikiran perempuan generasi kedua, saat makan, saat
terdiam, bahkan saat mandi sekalipun. Tidak jarang, bagi para pencari inspirasi, terasakan inspirasi
hadir pada saat berada di kamar mandi. Karena saat itu, pikiran sedang kosong.
Hati akhirnya terpanggil untuk menggoreskan kisah Fatimah bagi perempuan generasi kedua
karena ceritanya terus terngiang. Dan...duduk di depan laptop, secangkir kopi
menemani setiap aktivitasnya, kacamata minusnya yang setia dan agar bisa tetep
melek, dan...jari-jari bergerak pada tuts keyboard teman setianya notebook.
Selasa, 06 Mei 2014
Cerpen : LANUN
Seorang perempuan berparas cantik,
cantik dalam ukuran kecantikan Sunda.
Berwajah nyari, karena parasnya yang
berwajah manis dengan kulit tidaklah putih dan juga tidaklah hitam. Begitupun
dengan hidungnya, tidaklah mancung namun tidak pula pesek. Dagu yang lancip dan
bila dapat dikatakan cameuh. Alis
tebal ditambah pula dengan bola mata yang hitam. Berambut pendek dengan gaya
potongan segi.
Banyak
yang mengatakan ketika selintas melihat dirinya mirip seperti penyanyi yang
juga sempat bermain dalam beberapa film layar lebar di era 90-an. Seorang
penyanti berparas manis yang meninggal karena menabrak pembatas jalan, Nike Ardila.
Nama
perempuan itu Lanun. Siapapun lelaki yang melihat Lanun tentu tidak sedikit
dari mereka terpikat dengan kecantikan Lanun yang berkulit sawo matang.
Seiring banyaknya lelaki yang
terpikat kepada Lanun. Banyak lelaki yang merayu, menggombal dengan
iming-imingan kemewahan kepada Lanun bila ia rela menjadi pasangan hidupnya.
Namun tidak ada satupun pria yang membuat hati Lanun terpikat. Entah apa sebabnya,
tapi Lanun bukanlah tipe perempuan matre.
Lanun
telah berkerudung, mungkin itu salah satu dari alasan Lanun untuk tidak
menerima cinta lelaki terlebih dahulu yang memang sudah menjadi keputusannya.
Dengan berkerudung semakin terpancarlah wajahnya yang cantik dari sebelumnya.
Ditambah Lanun terlihat berpendidikan, karena Lanun duduk di bangku kuliah.
Banyak
yang memuji Lanun termasuk diantara perempuan yang sebaya umurnya. Bila
perempuan selintas melihatnya, siapa yang tidak merasa iri padanya walau memang
perasaan iri hanya selintas. Bagaimana tidak, selain memang memiliki wajah yang
cantik ditambah berpendidikan.
***
Lama
tidak terlihat sosok Lanun, seolah tidak ada pembicaraan diantara kaum
muda-mudi khususnya kaum adam disekitar lingkungan rumahnya yang memang
menginginkan dirinya. Mungkin dikarenakan sibuk, entah oleh pekerjaan atau
pendidikannya sehingga Lanun tinggal nge-kost dekat dengan tempat pendidikannya
atau pekerjaannya. Walau semua itu tidaklah pasti kabarnya, aku hanya tahu
selintas dari orang yang suka memperbincangkannya.
Seiring
berjalannya waktu, sehingga terlihat Lanun hanya menggunakan kerudung dengan
asal-asalan yang tentunya masih terlihat rambutnya. Ditambah dengan raut wajah
dan mimik muka yang sedikit murung. Hal itu biasa terjadi dan terlihat biasa
saja, mungkin karena kecapean dan terlalu sibuk. Tapi apakah memang karena hal
itu, Lanun bermimik muka seperti itu. Walau memang masih terlihat paras
cantiknya.
Kini
kulihat Lanun sering berada di sekitar rumahnya, dan sudah kembali kerumahnya.
Alasannya entah mengapa. Pernah kudengar seseorang melihat Lanun berbicara
sendiri ketika sedang berjalan dan ketika melewati seseorang yang berada di
depan rumahnya tak sepatah katapun terucap dari bibirnya, sesungging
senyumnyapun tidak keluar dari bibirnya. Tapi, mungkin saja dia tidak melihat
atau dia tidak konsentrasi dengan keadannya. Sampai segitukah? Kudengar hal itu
tidak hanya pada satu atau dua orang, melainkan beberapa orang.
Pernah
juga Lanun membagi-bagikan buah pepaya kepada tetangga-tetangganya. Mungkin
memang dia memiliki sikap baik hati. Tetapi katanya itu tidak biasa. Buah
pepaya yang telah dipotong kemudian dibagikan oleh Lanun ternyata milik kakak
iparnya yang tinggal satu rumah dengannya.
Dan
tersiar kabar, bahwa Lanun sedikit terganggu jiwa dan mentalnya. Terdengar juga
kabar yang tersiar bahwa Lanun telah dipermainkan oleh lelaki. Hal yang biasa
dikatakan masuk akal dan juga tidak, antara percaya atau tidak. Di jaman yang
sudah modern seperti ini masih ada perdukunan.
Lanun
dengan paras wajah cantik suatu ketika pernah menolak seorang lelaki yang ingin
mempersunting dirinya dan hal itu membuat si lelaki merasa sakit hati dengan
perlakuan Lanun. Sepert kata pepatah, cinta
ditolak dukun bertindak. Masih jamankah hal seperti itu di era yang sudah
modern? Tapi, bukankah Lanun berkerudung, mungkin saja dia juga orang yang taat
beribadah. Lantas, benarkah apa yang dibicarakan oleh orang-orang bahwa Lanun
sering terlihat berjalan sendiri atau duduk di pinggir jalan sendiri, berbicara
dan tersenyum sendiri. Dan pernah kulihat secara tidak sengaja Lanun lewat
depan rumahku, memang keadaan Lanun terlihat aneh, lewat depan rumah tanpa
permisi padahal antara aku dan Lanun saling bertemu mata.
Para
lelaki yang pernah ditolak Lanun, hanya bisa memandang dari kejauhan dan
kedekatan. Mungkin saja mereka masih menyimpan harapan untuk bsia hidup dengan
Lanun karena paras kecantikannya. Tapi mungkinkah, ataukah mungkin dihati
mereka menyimpan perasaan puaskah, dendamkah karena tidak satupun lelaki
diantara mereka yang diterima cintanya oleh Lanun dikala itu. Tapi barangkali tidak
untuk sekarang.
Lanun yang malang tak terarah,
melangkah dengan tergotai....padahal masih panjang akan masa depan Lanun. Dari
kejauhan pula aku hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat sesuatu kepada Lanun.
Karena Lanun memang sedikit terganggun jiwanya.
Senin, 05 Mei 2014
Saling Menjaga dalam Ada maupun Tidak Ada
Dalam suatu kesempatan untuk kembali
berbagi kepada mereka, mereka teman-teman atau adik-adik untuk sama-sama
belajar. Selesai membaca Al-Quran bersama (Tadarus
Al-Quran), aku berbagi akan tema yang disampaikan mengenai Suara Hati Anggukan Univesal, teori
dalam training ESQ Ary Ginanjar Agustian. Terdapat nilai kehidupan yang utama
dan terutama adalah kejujuran. Sampai adzan Isya berkumandang, waktunya telah
selesai kebersamaan itu.
Dalam kesempatan akan pulang,
seorang adik bertanya “Teteh bersahabat
dengan teh Dewi dan teh Winda?” tanya salah satu adik. Dewi dan Winda
adalah dua diantara sahabat-sahabat kecilku yang tetap terus terjalin ikatannya
hingga kini, sahabat kecil ketika masih duduk di bangku sekolah dasar karena
kami mengaji bersama hingga kini usia kami menginjak dewasa awal dan saat ini
kami berbagi kepada adik-adik kecil.
Kontan aku menjawab, “Ya..teteh sahabatan dari kecil.” Dengan
adanya pertanyaan tersebut, menjadi satu kesempatan untuk aku berbagi, “Kunci persahabatan itu ialah saling menjaga.
Seperti misalnya begini....ketika teteh bersama teh Winda, kita tidak
membicarakan kejelekan teh Dewi, tapi membicarakan kebaikannya. Atau ketika
teteh bersama teh Dewi, tidak membicarakan juga teh Winda. Yang utama dan
terutama dalam sebuah persahabatan adalah kejujuran...suatu hari teteh makan
satu piring bersama dengan teh Dewi, setelah makanan habis dalam piring, kita
mengakui bahwa kita masih menginginkannya, jadi kita tambah lagi makanan
bersama...intinya kejujuran..”sahutku pada mereka. Untuk masalah makan
dalam satu piring itu, aku hanya ingin berbagi akan kisah senang karena aku
merasa diantara kita tidak ada jaim (jaga
image). Terkenang kembali masa-masa kecil. Entah, mereka menyimak ataukah
tidak, hanya saja yang kulihat mereka memperhatikan dengan mata.
Dan kembali ada pertanyaan, “Teteh pernah musuhan...?” kontan aku
menjawab, “Pernah dong..” lantas aku
sendiri bingung musuhan yang mana ya. Kurasa, musuhan secara langsung itu
tidak, tetapi perbedaan paham atau saling tidak enak hati barangkali tentu saja
pernah. Kuncinya, ya...kembali memaklumi dan saling memahami.
Terasakan, kunci persahabatan sedari
kecil aku gunakan dengan teman kelas di kampus, Hanifah, Airin, Hamidah, dan
Dwi. Aku merasakan, bahwa diantara kami sedari awal semester merasakan belum
pernah bermusuhan, ketika ada perbedaan paham kita saling jujur. Kunci utama
yang aku rasakan, benar-benar....saling menjaga ketika ada maupun tidak ada.
Semoga....persahabatan yang terjalin
ini tetapi terjalin selamanya, dan Alloh senantiasa memberikan keberkahan
teruntuk kita...Amin Yaa Rabbi.... dan....miss u all...teruntuk para
sahabat-sahabatku.............
Rabu, 1 Mei 2014
22:09
dalam kesendirian,keheningan,
kerinduan... sesaat setelah berkutat dengan tulisan berstruktur (skripsi)
Langganan:
Postingan (Atom)