Kamis, 29 Mei 2014

Ketika Seorang Wanita Bekerja



Aktifitas yang membosankan akan menjadikan hidup juga membosankan. Lantas aktifitas seperti apakah agar hidup terasa tidak membosankan atau lebih tepatnya menikmati hidup dan menyenangkan.
            Terbayangkan bila menjadi seorang ibu rumah tangga tanpa ada atau tanpa memiliki aktifitas selain dari mengurus anak. Ditambah dengan penghasilan dari suami yang bekerja dengan gaji pas-pasan, sehingga untuk melakukan sesuatu atau jalan-jalan tidak uang, karena gajinya hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Satu hal penting yang perlu digaris bawahi bahwa besar kecilnya pengeluaran tergantung dari pemasukan.
            Kembali kepada aktifitas, menjadi seorang wanita karir, banyak yang menginginkannya. Tapi, ada wanita karir yang bekerja, ketika anaknya sekolah, anak merasa kesepian. Ketika anak memasuki taman kanak-kanak, mereka diantar oleh ibu mereka ke sekolah, dan ketika istirahat biasanya mereka ke pelukan ibunya. Karena usia TK, anak-anak masih manja. Pulang sekolah mereka ingin mencurahkan apa yang telah terjadi disekolahnya kepada ibunya. Terbayangkan, bila ibunya bekerja, anak merasa kesepian. Tidak sedikit seorang wanita atau ibu bekerja karena tuntutan ekonomi, gaji suaminya yang pas-pasan kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
            Memang, bila seorang wanita atau ibu bekerja akan membantu perekonomian keluarga, tapi bagaimana dengan nasib anak-anak, mereka merasakan kurang kasih sayang dan perhatian dari ibunya. Anak-anak merasa kuran perhatian sehingga mereka mencari perhatian dari orang lain atau orang di luar rumah. Terlebih ketika ditambah dengan sikap ayahnya yang kurang perhatian. Ada berbagai karakter yang merupakan dampak seroang anak yang ibunya sibuk bekerja,ada seorang anak yang mandiri. Hal itu bagus, tapi kasihan anak terlihat kurang perhatian,dan yang seperti itu anak cenderung memiliki sikap pendiam. Ada juga yang aktifnya berlebihan dan mencari-cari perhatian dengan sikapnya yang tidak lain atau tidak seperti anak-anak yang lain. Tapi anak ini cenderung memiliki sikap tempramen, mudah marah dan tersinggung, hal ini berdasarkan fakta nyata yang terjadi pada anak. Tapi, mungkin tidak semua anak seperti ini juga yang ibunya bekerja.
            Disatu sisi tuntutan ekonomi yang mengharuskan seorang ibu bekerja, karena mengandalkan suami gajinya pas-pasan. Dan disatu sisi pula anak menjadi korban kesibukan kedua orangtua mereka yang bekerja. Kodrat seorang wanita memang mengurus  rumah tangga, tapi bila memang tuntutan ekonomi, bagaimana? Adakah kerja untuk seorang wanita tapi masih tetap bisa mengurus anaknya, masing-masing orang memiliki persepsi tersendiri.
            Bila memang suami gajinya mencukupi, sebuah anugerah dan hal tersebut patut disyukuri sehingga bisa lebih konsentrasi mengurus dan juga mendidik anak. Karena pendidikan untuk anak tidak hanya cukup di dapat disekolah. Yang terutama dan terpenting ialah didapat di rumah oleh orangtuanya.
            Lebih indah hidup dengan aktifitas menyenangkan, penyaluran hobi, tentunya setiap orang memiliki hobi yang berbeda. Setidaknya, selain mengurus dan mendidik anak,ada suatu suatu aktifitas untuk diri sendiri, sehingga tidak jenuh dan membosankan. Hingga hidup terasa lebih berwarna...materi tidak menjamin kebahagiaan dalam kehidupan...tapi materi penunjang kehidupan.
-Kamis, 5 Agustus 2010-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar