Selasa, 06 Mei 2014

Cerpen : LANUN



Seorang perempuan berparas cantik, cantik dalam ukuran kecantikan Sunda. Berwajah nyari, karena parasnya yang berwajah manis dengan kulit tidaklah putih dan juga tidaklah hitam. Begitupun dengan hidungnya, tidaklah mancung namun tidak pula pesek. Dagu yang lancip dan bila dapat dikatakan cameuh. Alis tebal ditambah pula dengan bola mata yang hitam. Berambut pendek dengan gaya potongan segi.
              Banyak yang mengatakan ketika selintas melihat dirinya mirip seperti penyanyi yang juga sempat bermain dalam beberapa film layar lebar di era 90-an. Seorang penyanti berparas manis yang meninggal karena menabrak pembatas jalan, Nike Ardila.
              Nama perempuan itu Lanun. Siapapun lelaki yang melihat Lanun tentu tidak sedikit dari mereka terpikat dengan kecantikan Lanun yang berkulit sawo matang.
              Seiring banyaknya lelaki yang terpikat kepada Lanun. Banyak lelaki yang merayu, menggombal dengan iming-imingan kemewahan kepada Lanun bila ia rela menjadi pasangan hidupnya. Namun tidak ada satupun pria yang membuat hati Lanun terpikat. Entah apa sebabnya, tapi Lanun bukanlah tipe perempuan matre.
              Lanun telah berkerudung, mungkin itu salah satu dari alasan Lanun untuk tidak menerima cinta lelaki terlebih dahulu yang memang sudah menjadi keputusannya. Dengan berkerudung semakin terpancarlah wajahnya yang cantik dari sebelumnya. Ditambah Lanun terlihat berpendidikan, karena Lanun duduk di bangku kuliah.
              Banyak yang memuji Lanun termasuk diantara perempuan yang sebaya umurnya. Bila perempuan selintas melihatnya, siapa yang tidak merasa iri padanya walau memang perasaan iri hanya selintas. Bagaimana tidak, selain memang memiliki wajah yang cantik ditambah berpendidikan.
***
              Lama tidak terlihat sosok Lanun, seolah tidak ada pembicaraan diantara kaum muda-mudi khususnya kaum adam disekitar lingkungan rumahnya yang memang menginginkan dirinya. Mungkin dikarenakan sibuk, entah oleh pekerjaan atau pendidikannya sehingga Lanun tinggal nge-kost dekat dengan tempat pendidikannya atau pekerjaannya. Walau semua itu tidaklah pasti kabarnya, aku hanya tahu selintas dari orang yang suka memperbincangkannya.
              Seiring berjalannya waktu, sehingga terlihat Lanun hanya menggunakan kerudung dengan asal-asalan yang tentunya masih terlihat rambutnya. Ditambah dengan raut wajah dan mimik muka yang sedikit murung. Hal itu biasa terjadi dan terlihat biasa saja, mungkin karena kecapean dan terlalu sibuk. Tapi apakah memang karena hal itu, Lanun bermimik muka seperti itu. Walau memang masih terlihat paras cantiknya.
              Kini kulihat Lanun sering berada di sekitar rumahnya, dan sudah kembali kerumahnya. Alasannya entah mengapa. Pernah kudengar seseorang melihat Lanun berbicara sendiri ketika sedang berjalan dan ketika melewati seseorang yang berada di depan rumahnya tak sepatah katapun terucap dari bibirnya, sesungging senyumnyapun tidak keluar dari bibirnya. Tapi, mungkin saja dia tidak melihat atau dia tidak konsentrasi dengan keadannya. Sampai segitukah? Kudengar hal itu tidak hanya pada satu atau dua orang, melainkan beberapa orang.
              Pernah juga Lanun membagi-bagikan buah pepaya kepada tetangga-tetangganya. Mungkin memang dia memiliki sikap baik hati. Tetapi katanya itu tidak biasa. Buah pepaya yang telah dipotong kemudian dibagikan oleh Lanun ternyata milik kakak iparnya yang tinggal satu rumah dengannya.
              Dan tersiar kabar, bahwa Lanun sedikit terganggu jiwa dan mentalnya. Terdengar juga kabar yang tersiar bahwa Lanun telah dipermainkan oleh lelaki. Hal yang biasa dikatakan masuk akal dan juga tidak, antara percaya atau tidak. Di jaman yang sudah modern seperti ini masih ada perdukunan.
              Lanun dengan paras wajah cantik suatu ketika pernah menolak seorang lelaki yang ingin mempersunting dirinya dan hal itu membuat si lelaki merasa sakit hati dengan perlakuan Lanun. Sepert kata pepatah, cinta ditolak dukun bertindak. Masih jamankah hal seperti itu di era yang sudah modern? Tapi, bukankah Lanun berkerudung, mungkin saja dia juga orang yang taat beribadah. Lantas, benarkah apa yang dibicarakan oleh orang-orang bahwa Lanun sering terlihat berjalan sendiri atau duduk di pinggir jalan sendiri, berbicara dan tersenyum sendiri. Dan pernah kulihat secara tidak sengaja Lanun lewat depan rumahku, memang keadaan Lanun terlihat aneh, lewat depan rumah tanpa permisi padahal antara aku dan Lanun saling bertemu mata.
              Para lelaki yang pernah ditolak Lanun, hanya bisa memandang dari kejauhan dan kedekatan. Mungkin saja mereka masih menyimpan harapan untuk bsia hidup dengan Lanun karena paras kecantikannya. Tapi mungkinkah, ataukah mungkin dihati mereka menyimpan perasaan puaskah, dendamkah karena tidak satupun lelaki diantara mereka yang diterima cintanya oleh Lanun dikala itu. Tapi barangkali tidak untuk sekarang.
            Lanun yang malang tak terarah, melangkah dengan tergotai....padahal masih panjang akan masa depan Lanun. Dari kejauhan pula aku hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat sesuatu kepada Lanun. Karena Lanun memang sedikit terganggun jiwanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar