Sejalan dengan apa yang
ditulis oleh Gadis Arivia kehidupan moral
perempuan bukanlah datang dari ide-ide besar melainkan dari kehidupan
sehari-hari yang ia jalani. Kehidupan ruang domestik yang ia geluti, ruang
pribadi yang menyangkut kesejahteraan kelurganya, relasi-relasi kecil yang
mempunyai keterikatan emosional, dunia feminitas yang tampak sederhana dari
luar namum nampak kompleks dalam kehidupan perempuan. [1]
Sebuah curahan
hati akan apa yang dilihat, dirasakan, di dengar, dan tentu saja ingin
dibagikan lewat sebuah goresan tinta yang tak terarah ini mengenai kisah
perempuan. Beberapa cerita yang terdiri dari tujuh cerita, Asap Malam, Karena Aku Perempuan,
Renggutlah Hatiku, Rumah Besar Patriarkal, Cinta Selembut Awan, Namaku Rahma,
dan Sita Yang Malang. Cerita tulisan ini terinspirasi dari beberapa
kisah orang-orang terdekat, yang memiliki keterikatan emosional sehingga saya
kembangkan lewat tulisan. Dan semua tokoh utama yang ada dalam tulisan ini
adalah perempuan.
Seperti
yang dituliskan oleh Tasaro GK dalam novel Kinanti Terlahir Kembali, bahwa
seseorang dapat menulis karena tiga hal yaitu fact, reference, and imagination. Begitupula dengan setiap apa yang
ditulis oleh saya memuat tiga hal tersebut. Sehingga tidak jarang saya sendiri
sebagai pembaca tulisan para penulis, menebak-nebak bagian manakah yang menjadi
faktanya. Walaupun tidak semua tulisan mengandung fakta, dan dengan fakta pula
dapat menulis dengan hati.
Dalam
proses penulisan ini diimbangi oleh rasa kekhwatiran, harapan, cinta, bahkan
dengan rasa apa yang sering dikatakan masa kini kegalauan. Secangkir kopi selalu menemani dalam setiap aktivitas
menulis.
Harapan
terbesar, semoga saja dapat diambil hikmah atas setiap pelajaran dalam setiap
detik episode kehidupan. Dan menjadikan kita perempuan untuk kuat menghadapi kehidupan. Karena perempuan tidak
selalu emosional yang segala sesuatu
dibawa oleh perasaan, melainkan rasional.
Sehingga adanya keseimbangan antara pikiran dan hati pada perempuan.
Ira Susanti
Perempuan yang bercerita
[1] Gadis
Arivia, Feminisme:Sebuah Kata Hati.
Soekarno dan Gerakan Perempuan.KOMPAS, Jakarta, 2006, hal.36.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar