Senin, 05 Mei 2014

Sekapur Sirih: Karena Aku Perempuan



Sejalan dengan apa yang ditulis oleh Gadis Arivia kehidupan moral perempuan bukanlah datang dari ide-ide besar melainkan dari kehidupan sehari-hari yang ia jalani. Kehidupan ruang domestik yang ia geluti, ruang pribadi yang menyangkut kesejahteraan kelurganya, relasi-relasi kecil yang mempunyai keterikatan emosional, dunia feminitas yang tampak sederhana dari luar namum nampak kompleks dalam kehidupan perempuan. [1]
            Sebuah curahan hati akan apa yang dilihat, dirasakan, di dengar, dan tentu saja ingin dibagikan lewat sebuah goresan tinta yang tak terarah ini mengenai kisah perempuan. Beberapa cerita yang terdiri dari tujuh cerita, Asap Malam, Karena Aku Perempuan, Renggutlah Hatiku, Rumah Besar Patriarkal, Cinta Selembut Awan, Namaku Rahma, dan Sita Yang Malang. Cerita tulisan ini terinspirasi dari beberapa kisah orang-orang terdekat, yang memiliki keterikatan emosional sehingga saya kembangkan lewat tulisan. Dan semua tokoh utama yang ada dalam tulisan ini adalah perempuan.
Seperti yang dituliskan oleh Tasaro GK dalam novel Kinanti Terlahir Kembali, bahwa seseorang dapat menulis karena tiga hal yaitu fact, reference, and imagination. Begitupula dengan setiap apa yang ditulis oleh saya memuat tiga hal tersebut. Sehingga tidak jarang saya sendiri sebagai pembaca tulisan para penulis, menebak-nebak bagian manakah yang menjadi faktanya. Walaupun tidak semua tulisan mengandung fakta, dan dengan fakta pula dapat menulis dengan hati.
Dalam proses penulisan ini diimbangi oleh rasa kekhwatiran, harapan, cinta, bahkan dengan rasa apa yang sering dikatakan masa kini kegalauan. Secangkir kopi selalu menemani dalam setiap aktivitas menulis.
Harapan terbesar, semoga saja dapat diambil hikmah atas setiap pelajaran dalam setiap detik episode kehidupan. Dan menjadikan kita perempuan untuk kuat menghadapi kehidupan. Karena perempuan tidak selalu emosional yang segala sesuatu dibawa oleh perasaan, melainkan rasional. Sehingga adanya keseimbangan antara pikiran dan hati pada perempuan.
Ira Susanti
Perempuan yang bercerita


[1] Gadis Arivia, Feminisme:Sebuah Kata Hati. Soekarno dan Gerakan Perempuan.KOMPAS, Jakarta, 2006, hal.36.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar